Terowongan Silaturahmi: Sejarah Masjid Istiqlal & Katedral
greenfieldreview.org – Pernahkah Anda berdiri di Lapangan Banteng dan memutar pandangan 360 derajat? Di satu sisi, menara runcing Gereja Katedral Jakarta menjulang dengan gaya neo-gotiknya yang anggun. Tepat di seberangnya, kubah raksasa baja antikarat berkilau di bawah terik matahari Jakarta. Keduanya bukan sekadar bangunan megah; mereka adalah tetangga yang telah berbagi sapa selama puluhan tahun. Namun, kini ada yang berbeda. Di bawah aspal yang memisahkan keduanya, sebuah lorong bawah tanah telah rampung dibangun, menghubungkan batin dua umat yang berbeda dalam satu langkah kaki.
Pertanyaannya, apakah keberadaan Terowongan Silaturahmi ini hanya sekadar proyek infrastruktur untuk mengurai kemacetan saat hari raya? Ataukah ia merupakan manifestasi fisik dari sebuah mimpi besar yang tertanam sejak sejarah masjid istiqlal pertama kali digagas? Kalau dipikir-pikir, sulit menemukan padanan di dunia di mana dua tempat ibadah utama dari agama yang berbeda tidak hanya berdiri berdampingan, tetapi juga “berpegangan tangan” secara arsitektural.
Imagine you’re berjalan di dalam terowongan yang sejuk itu. Di dindingnya, relief-relief yang melambangkan toleransi bercerita tentang betapa panjangnya perjalanan bangsa ini dalam merawat keberagaman. Untuk memahami mengapa terowongan ini begitu emosional, kita harus memutar waktu kembali ke masa di mana batu pertama masjid ini diletakkan.
1. Mimpi Sang Proklamator dan Debat Lokasi
Akar dari sejarah masjid istiqlal bermula pada tahun 1950. Setelah kemerdekaan diakui, KH Wahid Hasyim (Menteri Agama saat itu) bersama tokoh-tokoh Islam mengusulkan pendirian masjid agung sebagai simbol kemerdekaan. Nama “Istiqlal” sendiri diambil dari bahasa Arab yang berarti “Merdeka”. Namun, tahukah Anda bahwa lokasi masjid ini sempat memicu debat sengit antara dua Bapak Bangsa?
Bung Hatta mengusulkan masjid dibangun di area Jalan Thamrin (sekarang lokasi Hotel Indonesia), karena saat itu kawasan tersebut dikelilingi pemukiman Muslim. Namun, Bung Karno bersikeras membangunnya di atas bekas benteng Belanda, Citadel Frederik Hendrik. Alasannya visioner: masjid harus berdiri di atas tanah penjajah sebagai simbol kemenangan, dan ia harus berdampingan dengan Gereja Katedral untuk menunjukkan wajah Indonesia yang inklusif. Akhirnya, visi Bung Karno-lah yang menang.
2. Friedrich Silaban: Arsitek Nasrani di Balik Kemegahan Islam
Inilah fakta yang selalu berhasil membuat dunia berdecak kagum. Melalui sayembara ketat pada tahun 1955, terpilihlah desain bertajuk “Ketuhanan” karya Friedrich Silaban. Hal yang unik? Friedrich adalah seorang pemeluk agama Kristen Protestan dan putra dari seorang pendeta.
Insight: Keputusan Bung Karno memilih Friedrich bukan sekadar karena ia arsitek jempolan, melainkan untuk mengirim pesan kuat bahwa urusan seni dan kewarganegaraan melampaui sekat keyakinan. Friedrich menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari tata cara ibadah umat Muslim agar desainnya fungsional. Tips: Saat berkunjung, perhatikan betapa luasnya ruang salat utama tanpa banyak pilar penghalang; itu adalah kecerdasan struktur yang dirancang Friedrich untuk menampung ribuan jemaah secara simetris.
3. Angka-Angka Mistis dalam Arsitektur
Masjid Istiqlal bukan sekadar beton dan marmer. Setiap jengkalnya adalah simbol. Arsitektur modernis yang diusung Friedrich sangat fungsional namun sarat makna numerik yang berkaitan dengan Islam dan Indonesia.
-
Kubah Utama: Berdiameter 45 meter, melambangkan tahun kemerdekaan 1945.
-
Menara Tunggal: Melambangkan keesaan Allah SWT, dengan tinggi 6.666 sentimeter (merujuk pada jumlah ayat Al-Qur’an menurut satu pendapat).
-
Tiang Utama: Ada 12 pilar besar yang menopang kubah, melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal).
-
Pintu Masuk: Terdapat 7 gerbang utama yang dinamakan berdasarkan Asmaul Husna, melambangkan 7 lapis langit.
4. Masa Pembangunan yang Tak Sebentar
Membangun masjid terbesar di Asia Tenggara ini bukanlah perkara mudah. Batu pertama diletakkan pada 24 Agustus 1961. Namun, badai politik dan ekonomi tahun 1965 membuat pembangunan sempat tersendat selama bertahun-tahun. Krisis biaya dan pergantian kekuasaan memaksa para pekerja bekerja ekstra sabar.
Data & Fakta: Dibutuhkan waktu sekitar 17 tahun hingga akhirnya masjid ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978. Biaya pembangunannya sebagian besar berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Insight: Kesabaran selama 17 tahun ini membuktikan bahwa Istiqlal adalah proyek “cinta” lintas rezim yang tidak terputus oleh dinamika politik.
5. Terowongan Silaturahmi: Jembatan di Bawah Tanah
Melompat ke tahun 2021, sejarah baru kembali tertulis dengan hadirnya Terowongan Silaturahmi. Terowongan sepanjang 28,3 meter ini menghubungkan area parkir bawah tanah Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Secara teknis, terowongan ini memudahkan penggunaan lahan parkir bersama saat hari raya besar seperti Idulfitri atau Natal.
Namun, secara filosofis, terowongan ini adalah perpanjangan tangan dari ide Bung Karno. Jika dulu mereka hanya “bertetangga”, kini mereka “bersatu” melalui jalur bawah tanah. Tips: Jika Anda melintasi terowongan ini, sempatkan melihat pencahayaan artistik dan kutipan-kutipan tentang persatuan yang menghiasi dindingnya. Ini adalah spot refleksi yang sangat tenang di tengah kebisingan Jakarta.
6. Wajah Baru Setelah Revitalisasi Besar
Antara tahun 2019 hingga 2020, Masjid Istiqlal menjalani revitalisasi besar-besaran untuk pertama kalinya sejak diresmikan. Proyek ini tidak hanya mempercantik lantai marmer dan sistem tata suara, tetapi juga menjadikan Istiqlal sebagai masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikat Final Edge sebagai bangunan hijau (Green Building).
Sistem pencahayaan kini menggunakan LED pintar yang bisa berubah warna, dan sungai di samping masjid dibersihkan agar menjadi ruang publik yang nyaman. Insight: Revitalisasi ini menunjukkan bahwa menjaga sejarah masjid istiqlal bukan berarti membiarkannya usang, melainkan mengadaptasinya dengan teknologi ramah lingkungan agar tetap relevan bagi generasi Z dan Alpha.
Kesimpulan Pada akhirnya, Masjid Istiqlal adalah monumen hidup yang menceritakan siapa kita sebagai bangsa. Dari visi Bung Karno yang berani hingga tangan dingin Friedrich Silaban, sejarah masjid istiqlal adalah narasi tentang bagaimana perbedaan bisa melahirkan kemegahan. Terowongan Silaturahmi yang kini berdiri kokoh hanyalah bab terbaru dari buku persaudaraan yang belum akan selesai ditulis.
Kalau dipikir-pikir, bukankah damai itu terasa lebih nyata saat kita tidak hanya saling melihat dari seberang jalan, tapi juga berani melangkah masuk ke lorong yang sama? Jadi, kapan terakhir kali Anda berkunjung ke sana dan merasakan sendiri heningnya ruang salat di bawah kubah 45 meter itu? Luangkan waktu sejenak, karena Istiqlal selalu punya cara untuk menenangkan jiwa yang sedang lelah.