Arsitektur Frederich Silaban: Sosok Kristen Perancang Masjid Negara
greenfieldreview.org – Bayangkan Anda berdiri di tengah pelataran raksasa Masjid Istiqlal, Jakarta. Di hadapan Anda, pilar-pilar beton menjulang gagah menopang kubah raksasa, sementara angin sepoi-sepoi leluasa menembus koridor tanpa sekat. Ribuan jemaah bersujud dalam harmoni. Namun, tahukah Anda bahwa cetak biru dari simbol kebanggaan umat Islam Indonesia ini lahir dari tangan seorang penganut Kristen yang taat?
Ini bukan sekadar plot twist sejarah, melainkan bukti nyata bagaimana toleransi sudah menjadi DNA bangsa ini sejak dulu. Ketika Presiden Soekarno memimpikan sebuah masjid yang akan bertahan seribu tahun, ia tidak melihat agama sang arsitek, melainkan visi dan jiwanya.
Di sinilah nama Arsitektur Frederich Silaban: Sosok Kristen Perancang Masjid Negara mencuat dan menjadi legenda. Kisahnya bukan hanya tentang menggambar garis dan menghitung beban beton, tetapi tentang bagaimana seorang anak pendeta dari Tanah Batak menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam bahasa ruang yang agung. Mari kita telusuri jejak langkahnya yang menakjubkan.
Sayembara 1955: Sandi “Ketuhanan” yang Misterius
Semua bermula pada tahun 1955. Bung Karno, sebagai Ketua Dewan Juri, menggelar sayembara desain masjid nasional. Suasananya tegang dan kompetitif. Dari 30 peserta yang mendaftar, hanya 27 yang menyerahkan karya.
Yang menarik, penjurian dilakukan secara tertutup (anonim) menggunakan sandi. Frederich Silaban, yang saat itu sudah dikenal sebagai arsitek otodidak berbakat, mengirimkan karyanya dengan sandi “Ketuhanan”. Ketika amplop pemenang dibuka, banyak yang terperangah. Pemenangnya bukanlah seorang kiai atau arsitek Muslim, melainkan Frederich Silaban. Kemenangan ini menegaskan bahwa seni dan kebangsaan melampaui sekat-sekat keyakinan.
Anak Pendeta yang “Nekat” Merancang Masjid
Siapa sebenarnya Frederich Silaban? Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, ia adalah putra seorang pendeta. Latar belakang ini membuat posisinya sebagai perancang masjid menjadi sangat unik.
Banyak yang bertanya, “Bagaimana mungkin seorang Kristen memahami kebutuhan ruang ibadah umat Islam?” Silaban tidak menjawab dengan kata-kata, tapi dengan riset. Selama berbulan-bulan, ia mempelajari tata cara ibadah Islam. Ia mengamati bagaimana jemaah mengambil wudhu, bagaimana saf (barisan) sholat terbentuk, dan bagaimana suara khatib harus memantul agar terdengar jelas tanpa gema yang mengganggu. Ia mendekati proyek ini dengan rasa hormat yang mendalam, bukan sekadar tugas profesional.
Filosofi “By The Grace of God”
Ada anekdot menarik antara Silaban dan Bung Karno. Karena kedekatan mereka, Silaban sering disebut sebagai “Arsitek Kesayangan Bung Karno”. Namun, Silaban tetaplah seorang profesional yang realistis.
Konon, saat merancang Istiqlal, Silaban mengajukan syarat unik: ia meminta jaminan “By the Grace of God” (Atas Kasih Karunia Tuhan) agar proyek ini bisa selesai. Maksudnya, mengingat skala proyek yang masif dan kondisi ekonomi Indonesia yang saat itu belum stabil, ia butuh jaminan penuh dari presiden bahwa pembangunan tidak akan mangkrak. Ketegasan ini menunjukkan integritasnya; ia tidak ingin masjid ini hanya menjadi monumen setengah jadi.
Desain Tropis: Masjid yang “Bernapas”
Jika Anda perhatikan, Arsitektur Frederich Silaban: Sosok Kristen Perancang Masjid Negara memiliki ciri khas yang sangat kuat: tanggap iklim. Silaban sangat anti dengan penggunaan AC (pendingin udara) yang berlebihan pada masa itu.
Ia merancang Istiqlal dengan dinding-dinding yang terbuka dan kerawang (lubang angin) yang masif. Tujuannya sederhana namun jenius: membiarkan udara Jakarta mengalir bebas mendinginkan ruangan secara alami. Ia ingin masjid ini “bernapas”. Bagi Silaban, arsitektur di negara tropis tidak boleh melawan matahari dan angin, tetapi harus berkawan dengannya. Hasilnya adalah ruang ibadah yang tetap sejuk meski dipenuhi ribuan orang.
Simbolisme Angka dalam Beton
Silaban bukan hanya bermain dengan fungsi, tapi juga simbol. Dalam rancangan Istiqlal, ia menyisipkan kode-kode numerik yang berkaitan dengan Islam dan kemerdekaan Indonesia, meskipun ia sendiri bukan Muslim.
Kubah utama berdiameter 45 meter, melambangkan tahun kemerdekaan 1945. Ada 12 pilar raksasa yang menopang kubah utama, yang melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal). Menara tunggal (minaret) setinggi 6.666 sentimeter melambangkan jumlah ayat dalam Al-Quran. Detail-detail ini membuktikan betapa dalamnya pemahaman dan penghormatan Silaban terhadap identitas bangunan yang ia rancang.
Harmoni dengan Katedral Jakarta
Salah satu aspek paling puitis dari karya Silaban adalah penempatan Istiqlal itu sendiri. Masjid ini berdiri gagah tepat di seberang Gereja Katedral Jakarta.
Meskipun lokasi ini dipilih oleh Bung Karno, desain Silaban memastikan bahwa Istiqlal tidak “memakan” atau menenggelamkan keindahan Katedral yang bergaya neo-gotik. Sebaliknya, gaya modern-brutalis Istiqlal dengan bentuk geometris yang tegas justru menjadi penyeimbang visual yang harmonis. Kini, keduanya berdiri berdampingan sebagai simbol kerukunan beragama yang paling ikonik di Asia, bahkan dunia.
Warisan yang Melampaui Bangunan
Frederich Silaban wafat pada tahun 1984, namun karyanya tetap hidup dan berdenyut. Selain Istiqlal, jejak tangannya juga bisa dilihat di Gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin dan Monumen Nasional (di mana ia terlibat dalam perancangan awal meski desain akhir dikerjakan tim lain).
Namun, Istiqlal tetaplah magnum opus-nya. Ia mengajarkan kita bahwa karya seni arsitektur bisa menjadi jembatan persaudaraan. Ia membuktikan bahwa untuk membangun “Rumah Tuhan”, yang dibutuhkan hanyalah hati yang tulus untuk mengabdi pada kemanusiaan dan bangsa, tanpa memandang label agama di KTP.
Kesimpulan
Menengok kembali sejarah pembangunan Istiqlal adalah pengingat yang menyegarkan di tengah isu intoleransi yang kadang mencuat. Bahwa masjid terbesar di Asia Tenggara ini lahir dari buah pikir seorang anak pendeta Batak adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Kisah Arsitektur Frederich Silaban: Sosok Kristen Perancang Masjid Negara mengajarkan kita bahwa keindahan sejati Indonesia terletak pada keberagamannya. Lain kali Anda melintas atau beribadah di Istiqlal, sempatkanlah menengadah ke kubah raksasanya, dan kirimkan doa untuk sang arsitek yang telah menyatukan kita dalam naungan beton dan marmer yang penuh makna.